Rabu, 13 November 2013

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) melakukan diskusi bersama sejumlah duta besar (dubes) dari negara-negara Uni Eropa terkait permasalahan di ibukota.

Dalam diskusi tersebut, Jokowi juga bertukar pengalaman dengan para dubes mengenai langkah-langkah yang dilakukan dalam menghadapi berbagai permasalahan serupa di negaranya masing-masing.

"Tadi kita ngobrol-ngobrol dengan para dubes dari Uni Eropa. Kita bertukar pengalaman, diantaranya mengenai pengelolaan limbah, e-government dan kemacetan lalu lintas," kata Jokowi usai menghadiri pertemuan dengan para Dubes dari Uni Eropa di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa.

Menurut Jokowi, Jakarta memiliki kesempatan besar untuk maju dan sejajar dengan kota-kota yang ada di Eropa. Oleh karena itu, dia mengaku berencana menjalin kerja sama dengan duta besar Uni Eropa.

"Misalnya, kita kan belum punya pengalaman dalam membangun transportasi masal Mass Rapid Transit (MRT), kita bertukar pengalaman dengan mereka. Begitu juga di bidang lain. Sehingga, pelan-pelan Jakarta bisa seperti negara-negara di Eropa," ujar Jokowi.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN Olof Skoog menyatakan siap membantu Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dalam membangun kota Jakarta.

"Kita punya banyak pengalaman dalam berbagai bidang, seperti pengelolaan sampah, banjir dan kemacetan. Kami siap membantu Jakarta dan menindaklanjuti segala kerja sama yang mungkin nanti akan kita lakukan. Kami bisa menawarkan masukan teknis atau pun sekedar bertukar pengalaman," tutur Skoog.

Kendati demikian, dia mengungkapkan sampai dengan saat ini masih belum ada rencana kongkrit mengenai kerja sama yang akan dijalin antara Jakarta dengan Uni Eropa.

"Tadi kami hanya sekedar bertukar pengalaman dengan Pak Gubernur, belum ada rencana kongkrit kerja sama. Jadi, kemungkinan nanti akan ada pertemuan selanjutnya untuk membahas segala permasalahan lebih lanjut," tambah Skoog.

Rabu, 02 Oktober 2013

Venesia Kota Terapung

Venesia, kota terapung yang terkenal dengan gondola-gondolanya, perlahan tenggelam ke dasarnya yang berair. Pietro Teatini, insinyur hidrolik dari University of Padua di Italia, dan rekan-rekannya membandingkan perubahan ketinggian Venesia dalam jangka pendek menggunakan data satelit baru tahun 2008-2011.

Mereka juga mengukur pergerakan ketinggian kota itu dalam jangka panjang dengan data satelit lama dari tahun 1992-2011.

Hasilnya menunjukkan bahwa kota itu secara alami menurun sekitar 0,8 sampai 1 milimeter per tahun sementara aktivitas manusia menyebabkan penurunan 2 sampai 10 milimeter per tahun.

Tetapi aktivitas manusia seperti konservasi dan rekonstruksi bangunan menyebabkan penurunan yang bersifat lokal dan berjangka pendek, kata Teatini dan rekan-rekannya dalam hasil studi yang terbit dalam jurnal Scientific Reports edisi 26 September.

Penurunan itu berisiko memperbanyak banjir di Venesia, yang telah terjadi karena gelombang tinggi sekitar empat kali dalam setahun. Masalah itu ditambah dengan kenaikan air laut akibat pemanasan global.

Laut Adriatik Utara naik sekitar satu milimeter per tahun, kata Teatini seperti dikutip LiveScience.

Ia menjelaskan, untuk mengatasi kenaikan air laut proyek MOSE (Experimental Electromechanical Module) akan dimulai tahun 2016.

Proyek itu akan menerapkan sistem gerbang bergerak yang akan memblokir ombak yang mencapai laguna Venesia saat gelombang tinggi.