Rabu, 05 Januari 2011

Pasar tradisional

IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia -> Harga cabai terus melambungkan di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang.Sebelumnya,Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyebut harganya hanya Rp70.000/kg.

Kini di pasar tradisional harganya sudah menembus angka Rp80. 000/kg. Di Pasar Johar Semarang harga cabai rawit merah Rp75. 000/kg. Dari sebelumnya Rp65. 000/kg. “Harga cabai mulai naik sejak November (2010) lalu,”ungkap Sugiyo,salah satu pedagang di Pasar Johar Semarang,kemarin. Lonjakan harga cabai saat ini merupakan rekor tertinggi selama dirinya berjualan. “Sejak saya berjualan pada 1984, ini merupakan harga yang tertinggi,”ujarnya. Kenaikan harga cabai tidak terjadi secara spontan. Itu terjadi secara perlahan-lahan dengan kecenderungan terus meningkat.Begitu juga dengan harga sekarang yang masih berpotensi naik lagi.

Sementara harga cabai rawit hijau tidak semahal rawit merah. Kemarin harga cabai rawit hijau Rp38.000/kg, sedangkan harga cabai merah Rp42.000/kg. Hal yang sama juga terjadi di Pasar Peterongan Semarang.Harga cabai rawit merah menyentuh angka Rp80.000/kg. “Harganya memang sedang tinggi-tingginya,” kata pedagang setempat, Margono. Meski harga meningkat tajam, tetapi permintaan cabai rawit merah masih tetap tinggi. Setiap kilogram cabai yang dibawanya pasti ludes terjual. Hanya, pembelian yang dilakukan masyarakat tidak sebanyak seperti biasanya. Menurut dia, kenaikan harga cabai dipengaruhi semakin menipisnya pasokan dari petani. Ini membuat hukum ekonomi berlaku. “Jumlah barangnya sedikit, sedangkan permintaan banyak. Makanya harga terus mengalami kenaikan,”tandasnya.

Kenaikan harga cabai tidak diikuti komoditas sembilan bahan pokok lainnya. Harga beras mengalami kenaikan tapi tidak signifikan. Untuk beras berkualitas baik harganya di tingkat grosir Rp7.000/kg. Beras yang kualitasnya jelek hanya Rp6.500/kg. Adapun harga beras kualitas baik di tingkat pengecer di Pasar Peterongan Rp8.500/kg. “Beras yang kualitasnya sedang Rp7. 500/kg, dan Rp6.800/kg untuk beras yang kualitasnya jelek,” paparnya. Harga cabai sudah sangat tinggi. Sayangnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Semarang menyatakan belum perlu menggelar operasi pasar. Operasi pasar akan dilakukan kalau kenaikan harga di atas 15% harga normal selama dua pekan berurutan.

“Belum perlunya operasi pasar juga karena tingkat konsumsi cabai di Kota Semarang masih tergolong rendah,” tandas Kabid Perdagangan Disperindag Kota Semarang Intan Indriawan kemarin. Saat ini harga cabai di Semarang masih akan naik secara fluktuatif. Selain kondisi cuaca ekstrem menjadi penyebab gagalnya panen cabai, dampak erupsi Gunung Merapi juga turut memberi andil. Intan menambahkan, selama ini pasokan cabai di Semarang sebagian berasal dari Jawa Timur seperti Kota Nganjuk dan Ngawi. Daerah lain di Jateng seperti Bandungan,Wonosobo, Salatiga, Temanggung, Kopeng, Boyolali, dan Klaten juga ikut memasok. Hanya, pasokan cabai kualitas satu, khususnya dari Jatim kebanyakan di jual lagi ke sejumlah pasar tradisional di Jakarta dan Jabar.

“Untuk stok cabai dari daerah Jatim yang masuk di kota Semarang masih terbilang mencukupi meski sekitar 20 hingga 30 persen saja,”ungkapnya. LPI Disambut Positif di SoloSOLO(SINDO) – Di tengah terpuruknya prestasi tim Persis Solo yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia (PSSI), kehadiran Solo FC diharapkan mampu mendongkrak nama Solo dalam kancah persepakbolaan nasional lewat kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).Dukungan bagi tim yang dilaunching pada Senin (3/1) malam itu mengalir dari pemerintah setempat maupun masyarakat. Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengucapkan terima kasihnya kepada LPI karena telah mengizinkan Solo FC menjadi salah satu peserta kompetisi. Ia pun mengajak para suporter Persis untuk mendukung Solo FC.

“Temanteman Pasoepati tidak perlu risau atau alergi dengan Solo FC.Tim ini diisi oleh 80% pemain dari lokal Solo,”ungkap pria yang juga Ketua Umum Persis ini,kemarin. Dukungan tersebut tidak saja terhadap Solo FC,namun juga bagi LPI. Secara terang-terangan, pria yang juga menjabat di kepengurusan cabang PSSI Solo itu mengatakan, telah sejak lama menginginkan adanya kompetisi di luar PSSI.Menurut dia,kompetisi LPI bakal menghadirkan persaingan sehat antartim.“Tim kita (Solo FC) tidak lagi bisa dimain-mainkan oleh kepemimpinan wasit karena semuanya import,”katanya. Selama ini,Rudy menilai tim Persis kerap dirugikan oleh kepemimpinan wasit saat berlaga di kompetisi- kompetisi resmi PSSI.

Bahkan,Rudy mengaku tidak ragu jika dikemudian hari harus berganti haluan dengan bergabung bersama LPI.“Saya ini diperintahkan Pak Wali (Wali Kota Solo Joko Widodo) untuk memegang Persis.Sekarang kondisi Persis seperti ini, jika kita sudah tidak sanggup lagi membiayai, terpaksa berhenti di tengah jalan (tidak ikut kompetisi Liga PSSI). Kalau kemudian Pak Wali mengintruksikan untuk gabung ke LPI, kita gabung LPI,”tuturnya. Chief Executive Officer (CEO) Solo FC Kesit Budi Handoyo menyambut baik antusias Solo dalam menyambut kehadiran kompetisi LPI.

“Di Jakarta saja slogan kita ‘reformasi sepak bola Indonesia’. Lha ini di Solo lebih dari sekadar reformasi, tapi revolusi,” katanya.